Skip to main content

Featured

Seekor Keledai di Depan Lubang Jarum

keledai Karya Mario F. Lawi  Sebuah kota tenang mengapung di atas danau Galilea. Ratusan orang kaya menghuni kota, mengadakan pesta sepanjang waktu, menumpahkan anggur terbaik bagi ikan ikan yang berkeriapan di permukaan danau. “Mereka sering kali mencekik orang-orang seperti Lazarus dan Bartimeus,” katamu. Ayahmu mengirimkan angin besar yang menggoyang-goyangkan seisi kota. Kota yang sedih, kota yang sedih, cintailah aku seperti anak ayam mengasihi bulu-bulu tebal induknya. Engkau mencengkeram jubah salah seorang penduduk kota itu dan menyeretnya ke hadapan kami sebelum kota benar-benar tenggelam. Di hadapan kalian yang mengitari singoga ini, aku dan Lazarus adalah anomali. Ia dipuji karena harta, kalian dipuja karena kata. Kami berdua adalah semut di ujung tumit yang hanya pantas dicibir sekawanan anjing.  Engkau menudingkan telunjukmu ke wajah si kaya ketika melipat lidahmu dan mulai mengumpamakan kerajaan surga. Lazarus yang kian gentar hanya menunduk di sudut gelap

Jangan Sekarang Tuhan

sedang berdoa diatas batu
Aku tau

Bumi ini kering karena kuasa-Mu

Gunung itu muntah karena takdir dari-Mu

Laut itu tumpah karena keperkasaan-Mu
Tanah ini berguncang karena-Mu

Tuhan

Inikah peringatan dari-Mu

Atas dosa-dosa manusia ciptaan-Mu
Masih saja manusia lalai akan teguran-Mu
Larut dalam foya-foya pengikis waktu

Aku takut akan ini

Dimana Engkau akan mengambil sepertiga

Demi sepertiga kenikmatan dari langit dan bumi 

Dimana akan tiba aku lunglai

Makanan minuman tak ada

Handphone tak ada
Bahkan keluargapun lupa
Hanya ada iman mampu kuatkan jiwa
Dzikir bertasbih kepada-Nya
Akan lepaskan lapar dan dahaga
Apa daya lemahnya iman

Jangan sekarang Tuhan

Aku tak ingin merasakannya

Ku kuatkan ibadah kepada-Nya
Mengharap ampun dari-Nya

Comments

Post a Comment

Popular Posts